The Real Benefits Of Friendship

18.02 Sittah Shify 2 Comments




The fact is, tidak ada yang benar-benar tulus dalam pertemanan atau persahabatan. Seseorang men-‘spesialkan’ seseorang lain pasti dengan suatu alasan. Karena manusia hidup di dunia ini atas dasar ‘untung-rugi’. Kalau aku berteman dengan dia apa yang bisa aku dapatkan? Apa manfaat yang bisa aku ambil? Dan bisa saja manfaat itu bersifat keduniawian, like:

“Aku bisa dapat banyak pengetahuan baru kalau sama dia. Bisa nanya hal-hal yang belum aku pahami juga, kan dia pintar.”

“Aku bisa dapat sesuatu kalau sama dia. Dia sih sukanya ngasih barang ke aku, atau traktir aku makanan. Toh, dia kaya.”

“Aku bisa ikut populer kalau temenan sama dia. Ya kan, dia punya banyak temen, anak-hits lagi.”

And anything else. So, lets me ask. Setelah kita dapatkan manfaat itu semua, ya terus kenapa? Kamu tahu, saat seseorang berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan mendapatkan kepuasan. Dan rasa kepuasan itu nagih, adiktif. Dan jika kamu berteman dengan alasan-alasan di atas, lama-kelamaan nanti kamu akan terjebak pada ‘toxic relationship’. Dimana kamu mulai berpikir bahwa selama ini kamu sudah memberikan banyak hal ke dia, tapi kamu nggak dapat manfaat yang sebanding darinya. Atau, suatu saat temen kita ini sudah nggak pintar lagi, nggak kaya lagi, nggak hits lagi, maka kamu udah nggak bisa manfaatin dia lagi. Yang akhirnya, kita sendiri yang kecewa. Dan akhirnya kamu-lah yang meninggalkan temanmu. Dan ternyata kita sebagai manusia bisa setega itu.

That sound too much, but it’s reality. Bahkan bisa dikatakan, jika kita punya sahabat atau teman sedekat apapun dengan kita, kita pasti punya tujuan –read= manfaat – di balik persahabatan itu. Entah kita manfaatin dia karena dia enak diajakin ngobrol, atau karena biar nggak kesepian aja, atau agar suatu saat kalau kita sedang terpuruk kita bisa dapat uluran tangan dari dia. Then, it’s also ‘untung-rugi’. Dan akhirnya kalo tujuan atau ekspektasi kita nggak tercapai, kitanya yang kecewa. Then, again, again, and again, kita sakit hati karena ulah kita sendiri.

Bagaimana kalo kita ubah mindset ‘untung-rugi’ itu menjadi sesuatu yang lebih kekal, yang lebih immortal? Yang nggak cuma berpatok pada hal-hal yang fana. Dimana kita memanfaatkan teman kita agar kita bisa ‘do something good’ dan dia bisa ‘do something good too’. Seperti mengingatkan dia saat dia terjatuh dalam kesalahan, atau mengingatkan dia agar makin semangat dan rajin buat ngelaksanain perintah Allah. And this is the immortal one, yakni ‘investasi akhirat’. Dia dapet pahala karena ninggalin perbuatan maksiat atau ngelaksanain ketaatan, dan kita dapet pahala juga karena udah ngajakin dia dan mengingatkan dia. Kita buat teman kita menjadi objek dakwah kita, objek investasi abadi kita. Bukankah Rasulullah ﷺ pernah bersabda :

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim No. 1893)

Jadi, misalnya kamu punya temen yang tajir, nih. Ajakin dia buat rajin sedekah ke faqir miskin. Atau ajakin dia buat sekedar ngasih beberapa makanan ke para tukang becak di pinggir jalan pas kebetulan lagi keluar bareng. Atau ajakin dia mampir ke panti asuhan atau main ke TPQ di pedesaan agar dia ngerasain hawa kesederhanaan dan biar hatinya tersentuh.

Dan misalnya kalau kamu punya temen yang masih di tahapan cari jati diri. Antara mau hijrah tapi masih enggan, atau udah menuntut ilmu tapi enggan buat ngamalinnya. Ingatkan dia dengan kata-kata yang lembut. Ajakin dia buat mulai merutinkan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Seperti dzikir pagi-sore, sholat di awal waktu, baca Al-Qur’an minimal satu halaman sehari, dan lain sebagainya. Baru kemudian ke amalan-amalan yang lebih gede value-nya.

Tapi ingat, yang namanya dakwah itu bisa diterima dan bisa saja ditolak. Kalau ditolak ya sabar aja. Toh, kita sudah sampaikan saja kita sudah dapat pahala. Dan ketahuilah nggak ada yang sia-sia. Bisa saja dengan beberapa ajakan kita sekarang belum diterima, tapi beberapa tahun kemudian bisa jadi dia berubah. Who knows?

Dan adapun misalnya kita punya temen yang shalih nih, ‘alim, dan masyaAllah deh pokoknya. Kita bisa manfaatin dia dengan mengambil sebanyak-banyaknya faedah dan ilmu dari dia. Buat dia jadi teladan kita, motivator, dan support system pribadi kita. Dan balas kebaikan dia dengan hadiah, kado, etc. Dia dapet pahala karena bisa nyalurin ilmu dia, dan kamu dapet pahala karena kasih dia hadiah. Atau bisa juga dengan mem-fasilitasi dia. Bisa saja dia ingin spread kindness, pengin dakwah juga tapi masih malu-malu. Atau dia orangnya introver, maka bantulah dia. Buat komunitas yang bermanfaat, kamu bisa jadi controller atau admin. Bikin visualiasi dakwah yang cakep, dan teman shalihmu itu cukup sebagai kontributor tulisannya. 

Dan juga, jangan cari teman karena ingin kecipratan baiknya terus. Nggak harus sama si dia yang punya kelebihan ini dan itu. Terkadang, pertemanan itu seperti magnet, yang memiliki interest yang sama kayak kita aja yang bisa dekat sama kita. Dan ternyata, sama-sama nggak punya kelebihan. Dia nggak shalih-shalih amat, dan kita nggak shalih-shalih amat juga. Kalau seperti ini berarti kita saling menasihati, saling mengingatkan, saling menguatkan satu sama lain. Be better together, improve ourself together. Allah ﷻ berfirman :

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta salong menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran." (Surah Al-Ashr: 1-3)

Jadi, ending-nya kamu nggak cuma ‘do something good’ dan dia ‘do something good too’ aja. Tapi kamu dan dia sama-sama dapet pahala, dapet investasi akhirat, the immortal one. Jadi kita nggak bakalan kecewa lagi, karena benefit-nya real dan pasti, Allah-lah yang bakal kasih, bukan manusia yang hanya terbatas kemampuannya.

Ditulis oleh : Sittah Shifkhiyyah
18/12/2019

Terinspirasi dari buku What's Wrong About Your Life, karya Ardhi Mohammad. Dan beberapa nasihat dari gege tersayang Akalielie Ibrotie.

2 komentar: