Principle Of Life
Kemarin saat aku mempelajari kaidah-kaidah fiqih, sempat terbesit dalam hati. Bagaimana jika kita tetapkan kaidah (prinsip) dalam hidup kita? Bukankah itu sangat bagus? Karena dalam kehidupan ini kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab syari’at, maka dibuatlah kaidah-kaidah seperti kaidah fiqih maupun kaidah ushul fiqih. Nah, kalau untuk kehidupan manusia secara global dari keyakinan, ibadah, mu’amalah, pekerjaan sampai hal-hal yang mungkin luput dari hidup kita mengapa kita tidak berprinsip?
Setiap orang berbicara prinsip, prinsip ini itu
sampai-sampai kita kehilangan makna dari prinsip itu sendiri. Inti dari prinsip
adalah keefektifannya dan perannya dalam hidup kita. Apa gunanya mengaku
memiliki prinsip ini itu tapi malah mengabaikan isi prinsip itu sendiri? Dan prinsip
seseorang dapat berbeda dari prinsip yang dianut orang lain, mulai dari
perbedaan kebutuhan, pekerjaan, usia, minat, motivasi, dan yang lainnya. Nah,
karena itu yang disebutkan di sini hanya beberapa prinsip kecil saja, yang
kemungkinan besar dibutuhkan semua orang.
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan terus menerus, walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Banyak dari aku, kamu, dan kalian saat sedang
memiliki motivasi tinggi membuat target-target fantastis. Tapi sayangnya, dari
target-target yang banyak itu malah nggak ada atau hanya sedikit yang
terealisasi. Kita nggak menyadari kemampuan diri kita sendiri. Memang bagus
mencanangkan to do list dan taget yang banyak dan bermanfaat. Tapi
setiap diri kita memiliki batas.
Ada yang bisa multitasking, ada yang tidak.
Ada yang bisa fokus satu pekerjan sehingga cepat selesai, ada yang suka tidak
fokus sehingga butuh lebih banyak waktu. Ada yang masih melakukan hal-hal yang
tidak berguna, ada yang fokus dengan hal-hal yang berguna saja. Ada yang cepat
bosan dan ada yang sabar dan lebih betahan. Dari perbedaan-perbedaan ini kita
harus tahu kelemahan diri kita sendiri.
Diantara tips-tips yang bisa menentukan
target sesuai kadar kemampuan :
- Buat daftar apa saja kekurangan kamu di kertas. Secara mendetail dari kebiasaan-kebiasaan buruk kamu, sampai hal-hal yang paling mendasar seperti masalah urusan hati dan iman.
- Dari setiap kekurangan kamu itu, buat panah di sampingnya dan tulis perkiraan solusinya.
- Setelah menemukan perkiraan solusi, kamu tulis apa yang bisa kamu lakukan jika kekurangan itu sudah hilang dari dirimu.
- Saat sudah menyadari apa yang ‘mungkin’ mampu kamu lakukan baru buat target. Tidak apa sedikit tapi yang penting kamu yakin sanggup melakukannya. Jika sudah terbiasa dengan target-target itu atau sudah mencapainya, kamu boleh tambah target-target yang lain.
Target-target ini bisa jadi dalam
bentuk target ibadah, atau juga bisa target job sesuai passion, target
emosional, sosial, pendidikan, atau target yang lain. Perlu diingat, prioritas
dari target-target tersebut adalah yang paling membantu untuk mendekatakan diri
kita kepada Allah. Bukankah kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya semata?
“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Surah Yusuf ayat 53).
Saat seorang anak sejak kecil terbiasa
dengan dituruti semua keinginannya, itu berarti orang tuanya secara tidak langsung
‘telah menghancurkan’ anak itu sendiri. Bagaimana tidak, pada dasarnya nafsu itu
menyuruh/mengarah kepada keburukan, kita tidak bisa asal ngikut begitu saja.
Dan saat anak tersebut dewasa, dia tidak bisa memiliki sifat ‘dewasa’ itu
sendiri. Karena inti dari sifat ‘dewasa’ itu, pengontrolan diri, termasuk mengontrol
nafsu (keinginan). Dan juga termasuk salah pola asuh adalah membiarkan anak
memilih jalur hidupnya sejak usia dini. Bagaimana bisa kita memberi kebebasan
pilihan kepada anak kecil yang bahkan tidak tahu apa yang baik dan apa yang
buruk buat dirinya sendiri?
Next, balik ke poin prinsipnya.
Tidak semua keinginan harus dituruti, coba bayangkan kalau menuruti
keinginannya yang berupa : ingin rebahan seharian, ingin main game seharian, ingin
melamun seharian, ingin hangout seharian aja. Please, hidup ga sereceh
itu. Manusia adalah kumpulan dari hari-harinya. Jika hari-harinya ‘cuma’ berupa
kumpulan ‘hal-hal receh’ kira-kira tujuan diciptakan manusia terealisasi nggak?
“Maka apakah kamu mengira, bahwa
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) ?, dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Surat Al-Mukminun ayat 115)
Nggak semua yang kamu inginkan harus
dituruti. Karena kebanyak nafsu ditunggangi setan dan berubah menjadi
kemaksiatan. Apa gunanya dipanjangkan umur jika menambah dosa? Kecuali, jika
keinginan yang menuju kepada kebaikan. Ingin bermanfaat lebih banyak buat diri
sendiri dan orang lain, ingin mendapatkan prestasi, ingin mendapatkan reward
dari Allah berupa surga. Ya silakan atuh dituruti keinginannya kalau
baik-baik begitu.
3. Disebut kebahagiaan jika
didapatkan dengan susah payah.
Mulai sekarang, coba berpikir apa sih definisi
dari hakikat kebahagiaan? Pernahkah kamu memperjuangkan sesuatu dengan susah
payah, kemudian berhasil meraih hal tersebut hatimu dipenuhi rasa haru bahagia?
Walaupun mungkin, kebahagiaan semu hanya terasa pada saat itu saja, tetapi
tetap saja rasa senang itu lebih terasa bukan? Rasanya seperti semua yang telah
diupayakan terbayar lunas dengan keberhasilan di akhir. Seperti atlet yang berlatih
puluhan tahun lamanya, lalu saat momen SEA Games berhasil menyabet medali emas.
Tentu rasanya berbeda dengan seseorang yang tidak ada persiapan apa-apa
tiba-tiba menang begitu saja. Karena semakin susahnya mendapatkan kebahagiaan
tersebut semakin berharga dan terasa kebahagiaannya.
Jika kebahagiaan instan yang tidak perlu
usaha, tinggal klik ini bisa melihat video komedi bisa tertawa, tinggal klik di
aplikasi belanja online langsung barang diantar ke rumah, rasanya
kebahagiaan-kebahagiaan itu asal lewat saja. Serasa tak membekas di hati kita.
Tapi bayangkan jika seseorang itu bertahan di atas ketaatan selama
bertahun-tahun selama hidupnya, jatuh ke dalam maksiat taubat lagi, jatuh lagi
bangkit lagi, lalu di ending rangkaian kehidupannya, ia bertemu dengan
kehidupan abadi. Yes it’s ‘Paradise’. Surga tidak bisa dibeli dengan
uang, surga gak bisa dibeli dengan waktu (yang katanya lebih berharga dari emas),
surga juga tidak bisa dibeli dengan semua yang ada di bumi dan seisinya. It’s
precious than anything.
Baca deh sya'ir indah di bawah ini, gak
papa panjang, baca saja,
Semua orang yang berakal sepakat bahwa
kenikmatan tidak diraih dengan kenikmatan...
Orang yang lebih suka bersenang-senang,
akan terluput darinya kesenangan...
Kebahagiaan dan kelezatan diraih sesuai
dengan beratnya perjuangan...
Tak akan mendapatkan kebahagiaan orang
yang tidak bersungguh – sungguh...
Tak akan mendapatkan kebahagiaan orang
yang tak punya kesabaran...
Tidak akan mendapat kesenangan orang
yang tak mau bersusah payah...
Dan tak akan beristirahat orang yang tak
mau lelah..
Bahkan, bila hamba lelah sedikit maka ia
akan beristirahat panjang...
Apabila ia kuat menanggung beban
kesabaran sebentar, akan membawanyakepada kehidupan yang abadi...
Semua yang didapatkan oleh orang yang
diberi kesenangan abadi adalah akibat dari kesabaran sesaat...
Allah-lah tempat meminta bantuan, dan
tiada kekuatan kecuali dengan izin-Nya...
Ketika jiwa itu mulia, dan cita-citanya
tinggi, maka kelelahan badan semakin banyak dan istirahatnya sedikit...
Sebagimana sya’ir Al-Mutanabbi : “Apabila
seseorang berjiwa besar, Badan akan lelah tuk meraihnya.”
(Miftaahud
Daarus Sa’aadah 2/15, Ibnul QayyimAl-Jauziyyah)
4.
Memilih dari dua pilihan
yang paling sedikit penyesalannya.
Saat kita dihadapkan dengan dua pilihan,
perlu kita ketahui efek panjang yang ditimbulkan dari dua pilihan tersebut.
Bukan efeknya di dunia, tapi di akhirat juga. Salah satu tips memilih di antara
dua pilihan adalah dengan istikharah. Ya, semua dari kita tahu itu. Tapi
terkadang ada pilihan-pilihan yang mungkin tidak sebesar itu, tidak perlu
istikharah tapi kita perlu memikirkan dampak dari pilihan tersebut.
Misalkan diminta untuk memilih mentaati
orang tua tapi bermaksiat kepada Allah, atau mentaati Allah? Mungkin jika kita
menuruti orang tua kita bebas dari omelan dan marah dari keduanya. Tapi
bayangkan, kalo dapat siksa pedih di hari kiamat dari Allah mending pilih yang
mana? Tentu yang mudharatnya lebih besar, yaitu mudharat di hari akhir. Karena
penyesalan di dunia karena omelan lebih mendingan daripada penyesalan di
akhirat yang nggak bisa di-úndo’. Iya, penyesalan di akhirat permanen,
nggak bisa di-’restart’ maupun di-’remove’. Itu benar-benar
permanen dan nggak ada solusinya. So, kalau ketemu dua pilihan atau
beberapa pilihan, pilih saja yang kemungkinan penyesalannya lebih mendingan.
Mon maap panjang bet ya artikelnya, semoga
bermanfaat. Wassalaamu’alaikum!


0 komentar: