Antara Dipuji Dan Diuji
Setiap insan yang terlahir di dunia
ini pasti senang dipuji, diunggulkan, dan diistimewakan dari manusia lainnya. Karena
itu memang sudah menjadi sifat asli manusia. Dengan pujian, manusia bisa
membuktikan bahwa dirinya lebih dari manusia yang lain. Lebih dalam hal rupa,
harta, ilmu, bakat, dan lain sebagainya. Akan tetapi, benarkah hanya itu arti
dari sebuah pujian?
Pujian bisa menjadi nikmat. Karena kita
akan senang dan bahagia dengan dipuji. Akan tetapi, kenyataannya pujian bisa
menjadi ujian. Mengapa? Karena yang disebut fitnah (ujian) bisa berupa ujian
kebaikan maupun keburukan. Allah subhaanahu wata’ala berfirman yang
artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan
(yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS.
Al-Anbiya’:35)
Maka hakikat dari pujian yang
sebenarnya bukanlah nikmat, melainkan ujian. Karena jika seseorang dipuji, ia
akan merasa bangga, dan takjub kepada dirinya sendiri. Sampai ia lupa bahwa
semua nikmat yang diperolehnya tersebut dari Allah. Sehingga ia sombong, lupa
bersyukur bahkan sampai kufur nikmat. Dan sifat takjub terhadap diri sendiri
(ujub) ini adalah sifat yang sangat berbahaya dan membinasakan. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tiga hal yang membawa pada jurang
kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu
mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).”[1]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam juga melarang kita memuji seseorang secara berlebihan. Diriwayatkan
dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji
temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda,
‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu
-berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya
maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang
menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”[2]
Hikmah dibalik larangan memuji ini
adalah bahwa sehebat atau seindah apapun yang berada di bumi ini pada
hakikatnya adalah ciptaan Allah, sudah sepatutnya kita lebih banyak memuji sang
pencipta daripada seorang manusia biasa. Dan tentulah Allah lebih layak dipuji
dengan nama-nama Nya dan sifat-sifat Nya yang mulia.
Lalu, apakah sama sekali tidak boleh
memuji manusia? Jawabannya tidak. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memperbolehkan
memuji seseorang jika ada maslahat di dalamnya. Misalnya adalah maslahat yang
bisa menjadi penyemangat dan motivasi kebaikan kepada orang tersebut. Beliau
rahimahullah mengatakan: “Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi
baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa
karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”[3]
Dipuji adalah diuji. Bagi mereka yang
tahu diri bahwa dirinya tidaklah sebaik dari yang orang lain katakan serta
menyadari kekurangan dan dosanya tentu tidak akan mudah terjerumus. Akan tetapi
sebaliknya, bagi mereka yang tertipu dengan indahnya pujian itu, mereka akan
mudah jatuh ke dalam ujub dan takabbur. Dan hendaknya kita harus berhati-hati
menjaga hati disaat seseorang memuji kita. Dan agar kita tidak mudah tertipu
dengan pujian tersebut hendaknya kita membaca do’a: “Allahumma laa tu’aakhidnii
bimaa yaquuluun, waghfirli maa laa ya’lamuun, waj’alnii khoiron mimmaa yadhzunnuun”[4]


0 komentar: