Antara Dipuji Dan Diuji

18.54 Sittah Shify 0 Comments


               
             
               
Setiap insan yang terlahir di dunia ini pasti senang dipuji, diunggulkan, dan diistimewakan dari manusia lainnya. Karena itu memang sudah menjadi sifat asli manusia. Dengan pujian, manusia bisa membuktikan bahwa dirinya lebih dari manusia yang lain. Lebih dalam hal rupa, harta, ilmu, bakat, dan lain sebagainya. Akan tetapi, benarkah hanya itu arti dari sebuah pujian?

Pujian bisa menjadi nikmat. Karena kita akan senang dan bahagia dengan dipuji. Akan tetapi, kenyataannya pujian bisa menjadi ujian. Mengapa? Karena yang disebut fitnah (ujian) bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan. Allah subhaanahu wata’ala berfirman yang artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’:35)

Maka hakikat dari pujian yang sebenarnya bukanlah nikmat, melainkan ujian. Karena jika seseorang dipuji, ia akan merasa bangga, dan takjub kepada dirinya sendiri. Sampai ia lupa bahwa semua nikmat yang diperolehnya tersebut dari Allah. Sehingga ia sombong, lupa bersyukur bahkan sampai kufur nikmat. Dan sifat takjub terhadap diri sendiri (ujub) ini adalah sifat yang sangat berbahaya dan membinasakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).”[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga melarang kita memuji seseorang secara berlebihan. Diriwayatkan dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda, ‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”[2]

Hikmah dibalik larangan memuji ini adalah bahwa sehebat atau seindah apapun yang berada di bumi ini pada hakikatnya adalah ciptaan Allah, sudah sepatutnya kita lebih banyak memuji sang pencipta daripada seorang manusia biasa. Dan tentulah Allah lebih layak dipuji dengan nama-nama Nya dan sifat-sifat Nya yang mulia.

Lalu, apakah sama sekali tidak boleh memuji manusia? Jawabannya tidak. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memperbolehkan memuji seseorang jika ada maslahat di dalamnya. Misalnya adalah maslahat yang bisa menjadi penyemangat dan motivasi kebaikan kepada orang tersebut. Beliau rahimahullah mengatakan: “Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”[3]

Dipuji adalah diuji. Bagi mereka yang tahu diri bahwa dirinya tidaklah sebaik dari yang orang lain katakan serta menyadari kekurangan dan dosanya tentu tidak akan mudah terjerumus. Akan tetapi sebaliknya, bagi mereka yang tertipu dengan indahnya pujian itu, mereka akan mudah jatuh ke dalam ujub dan takabbur. Dan hendaknya kita harus berhati-hati menjaga hati disaat seseorang memuji kita. Dan agar kita tidak mudah tertipu dengan pujian tersebut hendaknya kita membaca do’a: “Allahumma laa tu’aakhidnii bimaa yaquuluun, waghfirli maa laa ya’lamuun, waj’alnii khoiron mimmaa yadhzunnuun”[4]





[1] HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761. Isnadnya dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 585
[2] HR. Muslim no. 3000
[3] Syarah Riyadhus Shalihin Hal. 564-565
[4] HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761. Isnadnya dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 585

0 komentar: