Principle Of Life





Kemarin saat aku mempelajari kaidah-kaidah fiqih, sempat terbesit dalam hati. Bagaimana jika kita tetapkan kaidah (prinsip) dalam hidup kita? Bukankah itu sangat bagus? Karena dalam kehidupan ini kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab syari’at, maka dibuatlah kaidah-kaidah seperti kaidah fiqih maupun kaidah ushul fiqih. Nah, kalau untuk kehidupan  manusia secara global dari keyakinan, ibadah, mu’amalah, pekerjaan sampai hal-hal yang mungkin luput dari hidup kita mengapa kita tidak berprinsip?

Setiap orang berbicara prinsip, prinsip ini itu sampai-sampai kita kehilangan makna dari prinsip itu sendiri. Inti dari prinsip adalah keefektifannya dan perannya dalam hidup kita. Apa gunanya mengaku memiliki prinsip ini itu tapi malah mengabaikan isi prinsip itu sendiri? Dan prinsip seseorang dapat berbeda dari prinsip yang dianut orang lain, mulai dari perbedaan kebutuhan, pekerjaan, usia, minat, motivasi, dan yang lainnya. Nah, karena itu yang disebutkan di sini hanya beberapa prinsip kecil saja, yang kemungkinan besar dibutuhkan semua orang.


1. Tidak apa sedikit yang penting optimal dan rutin, daripada banyak tapi terbengkalai.

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan terus menerus, walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak dari aku, kamu, dan kalian saat sedang memiliki motivasi tinggi membuat target-target fantastis. Tapi sayangnya, dari target-target yang banyak itu malah nggak ada atau hanya sedikit yang terealisasi. Kita nggak menyadari kemampuan diri kita sendiri. Memang bagus mencanangkan to do list dan taget yang banyak dan bermanfaat. Tapi setiap diri kita memiliki batas.

Ada yang bisa multitasking, ada yang tidak. Ada yang bisa fokus satu pekerjan sehingga cepat selesai, ada yang suka tidak fokus sehingga butuh lebih banyak waktu. Ada yang masih melakukan hal-hal yang tidak berguna, ada yang fokus dengan hal-hal yang berguna saja. Ada yang cepat bosan dan ada yang sabar dan lebih betahan. Dari perbedaan-perbedaan ini kita harus tahu kelemahan diri kita sendiri.

Diantara tips-tips yang bisa menentukan target sesuai kadar kemampuan :
  • Buat daftar apa saja kekurangan kamu di kertas. Secara mendetail dari kebiasaan-kebiasaan buruk kamu, sampai hal-hal yang paling mendasar seperti masalah urusan hati dan iman.
  • Dari setiap kekurangan kamu itu, buat panah di sampingnya dan tulis perkiraan solusinya. 
  • Setelah menemukan perkiraan solusi, kamu tulis apa yang bisa kamu lakukan jika kekurangan itu sudah hilang dari dirimu.
  • Saat sudah menyadari apa yang ‘mungkin’ mampu kamu lakukan baru buat target. Tidak apa sedikit tapi yang penting kamu yakin sanggup melakukannya. Jika sudah terbiasa dengan target-target itu atau sudah mencapainya, kamu boleh tambah target-target yang lain.
Target-target ini bisa jadi dalam bentuk target ibadah, atau juga bisa target job sesuai passion, target emosional, sosial, pendidikan, atau target yang lain. Perlu diingat, prioritas dari target-target tersebut adalah yang paling membantu untuk mendekatakan diri kita kepada Allah. Bukankah kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya semata?


2. Tidak semua keinginan harus dituruti.


“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Surah Yusuf ayat 53).
Saat seorang anak sejak kecil terbiasa dengan dituruti semua keinginannya, itu berarti orang tuanya secara tidak langsung ‘telah menghancurkan’ anak itu sendiri. Bagaimana tidak, pada dasarnya nafsu itu menyuruh/mengarah kepada keburukan, kita tidak bisa asal ngikut begitu saja. Dan saat anak tersebut dewasa, dia tidak bisa memiliki sifat ‘dewasa’ itu sendiri. Karena inti dari sifat ‘dewasa’ itu, pengontrolan diri, termasuk mengontrol nafsu (keinginan). Dan juga termasuk salah pola asuh adalah membiarkan anak memilih jalur hidupnya sejak usia dini. Bagaimana bisa kita memberi kebebasan pilihan kepada anak kecil yang bahkan tidak tahu apa yang baik dan apa yang buruk buat dirinya sendiri?

Next, balik ke poin prinsipnya. Tidak semua keinginan harus dituruti, coba bayangkan kalau menuruti keinginannya yang berupa : ingin rebahan seharian, ingin main game seharian, ingin melamun seharian, ingin hangout seharian aja. Please, hidup ga sereceh itu. Manusia adalah kumpulan dari hari-harinya. Jika hari-harinya ‘cuma’ berupa kumpulan ‘hal-hal receh’ kira-kira tujuan diciptakan manusia terealisasi nggak?

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) ?, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Surat Al-Mukminun ayat 115)

Nggak semua yang kamu inginkan harus dituruti. Karena kebanyak nafsu ditunggangi setan dan berubah menjadi kemaksiatan. Apa gunanya dipanjangkan umur jika menambah dosa? Kecuali, jika keinginan yang menuju kepada kebaikan. Ingin bermanfaat lebih banyak buat diri sendiri dan orang lain, ingin mendapatkan prestasi, ingin mendapatkan reward dari Allah berupa surga. Ya silakan atuh dituruti keinginannya kalau baik-baik begitu.


3.  Disebut kebahagiaan jika didapatkan dengan susah payah.

Mulai sekarang, coba berpikir apa sih definisi dari hakikat kebahagiaan? Pernahkah kamu memperjuangkan sesuatu dengan susah payah, kemudian berhasil meraih hal tersebut hatimu dipenuhi rasa haru bahagia? Walaupun mungkin, kebahagiaan semu hanya terasa pada saat itu saja, tetapi tetap saja rasa senang itu lebih terasa bukan? Rasanya seperti semua yang telah diupayakan terbayar lunas dengan keberhasilan di akhir. Seperti atlet yang berlatih puluhan tahun lamanya, lalu saat momen SEA Games berhasil menyabet medali emas. Tentu rasanya berbeda dengan seseorang yang tidak ada persiapan apa-apa tiba-tiba menang begitu saja. Karena semakin susahnya mendapatkan kebahagiaan tersebut semakin berharga dan terasa kebahagiaannya.

Jika kebahagiaan instan yang tidak perlu usaha, tinggal klik ini bisa melihat video komedi bisa tertawa, tinggal klik di aplikasi belanja online langsung barang diantar ke rumah, rasanya kebahagiaan-kebahagiaan itu asal lewat saja. Serasa tak membekas di hati kita. Tapi bayangkan jika seseorang itu bertahan di atas ketaatan selama bertahun-tahun selama hidupnya, jatuh ke dalam maksiat taubat lagi, jatuh lagi bangkit lagi, lalu di ending rangkaian kehidupannya, ia bertemu dengan kehidupan abadi. Yes it’s ‘Paradise’. Surga tidak bisa dibeli dengan uang, surga gak bisa dibeli dengan waktu (yang katanya lebih berharga dari emas), surga juga tidak bisa dibeli dengan semua yang ada di bumi dan seisinya. It’s precious than anything.

Baca deh sya'ir indah di bawah ini, gak papa panjang, baca saja,

Semua orang yang berakal sepakat bahwa kenikmatan tidak diraih dengan kenikmatan...
Orang yang lebih suka bersenang-senang, akan terluput darinya kesenangan...
Kebahagiaan dan kelezatan diraih sesuai dengan beratnya perjuangan...
Tak akan mendapatkan kebahagiaan orang yang tidak bersungguh – sungguh...
Tak akan mendapatkan kebahagiaan orang yang tak punya kesabaran...
Tidak akan mendapat kesenangan orang yang tak mau bersusah payah...
Dan tak akan beristirahat orang yang tak mau lelah..
Bahkan, bila hamba lelah sedikit maka ia akan beristirahat panjang...
Apabila ia kuat menanggung beban kesabaran sebentar, akan membawanyakepada kehidupan yang abadi...
Semua yang didapatkan oleh orang yang diberi kesenangan abadi adalah akibat dari kesabaran sesaat...
Allah-lah tempat meminta bantuan, dan tiada kekuatan kecuali dengan izin-Nya...
Ketika jiwa itu mulia, dan cita-citanya tinggi, maka kelelahan badan semakin banyak dan istirahatnya sedikit...
Sebagimana sya’ir Al-Mutanabbi : “Apabila seseorang berjiwa besar, Badan akan lelah tuk meraihnya.”
 (Miftaahud Daarus Sa’aadah 2/15, Ibnul QayyimAl-Jauziyyah)


4.       Memilih dari dua pilihan yang paling sedikit penyesalannya.

Saat kita dihadapkan dengan dua pilihan, perlu kita ketahui efek panjang yang ditimbulkan dari dua pilihan tersebut. Bukan efeknya di dunia, tapi di akhirat juga. Salah satu tips memilih di antara dua pilihan adalah dengan istikharah. Ya, semua dari kita tahu itu. Tapi terkadang ada pilihan-pilihan yang mungkin tidak sebesar itu, tidak perlu istikharah tapi kita perlu memikirkan dampak dari pilihan tersebut.

Misalkan diminta untuk memilih mentaati orang tua tapi bermaksiat kepada Allah, atau mentaati Allah? Mungkin jika kita menuruti orang tua kita bebas dari omelan dan marah dari keduanya. Tapi bayangkan, kalo dapat siksa pedih di hari kiamat dari Allah mending pilih yang mana? Tentu yang mudharatnya lebih besar, yaitu mudharat di hari akhir. Karena penyesalan di dunia karena omelan lebih mendingan daripada penyesalan di akhirat yang nggak bisa di-úndo’. Iya, penyesalan di akhirat permanen, nggak bisa di-’restart’ maupun di-’remove’. Itu benar-benar permanen dan nggak ada solusinya. So, kalau ketemu dua pilihan atau beberapa pilihan, pilih saja yang kemungkinan penyesalannya lebih mendingan.


Mon maap panjang bet ya artikelnya, semoga bermanfaat. Wassalaamu’alaikum!

The Real Benefits Of Friendship




The fact is, tidak ada yang benar-benar tulus dalam pertemanan atau persahabatan. Seseorang men-‘spesialkan’ seseorang lain pasti dengan suatu alasan. Karena manusia hidup di dunia ini atas dasar ‘untung-rugi’. Kalau aku berteman dengan dia apa yang bisa aku dapatkan? Apa manfaat yang bisa aku ambil? Dan bisa saja manfaat itu bersifat keduniawian, like:

“Aku bisa dapat banyak pengetahuan baru kalau sama dia. Bisa nanya hal-hal yang belum aku pahami juga, kan dia pintar.”

“Aku bisa dapat sesuatu kalau sama dia. Dia sih sukanya ngasih barang ke aku, atau traktir aku makanan. Toh, dia kaya.”

“Aku bisa ikut populer kalau temenan sama dia. Ya kan, dia punya banyak temen, anak-hits lagi.”

And anything else. So, lets me ask. Setelah kita dapatkan manfaat itu semua, ya terus kenapa? Kamu tahu, saat seseorang berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan mendapatkan kepuasan. Dan rasa kepuasan itu nagih, adiktif. Dan jika kamu berteman dengan alasan-alasan di atas, lama-kelamaan nanti kamu akan terjebak pada ‘toxic relationship’. Dimana kamu mulai berpikir bahwa selama ini kamu sudah memberikan banyak hal ke dia, tapi kamu nggak dapat manfaat yang sebanding darinya. Atau, suatu saat temen kita ini sudah nggak pintar lagi, nggak kaya lagi, nggak hits lagi, maka kamu udah nggak bisa manfaatin dia lagi. Yang akhirnya, kita sendiri yang kecewa. Dan akhirnya kamu-lah yang meninggalkan temanmu. Dan ternyata kita sebagai manusia bisa setega itu.

That sound too much, but it’s reality. Bahkan bisa dikatakan, jika kita punya sahabat atau teman sedekat apapun dengan kita, kita pasti punya tujuan –read= manfaat – di balik persahabatan itu. Entah kita manfaatin dia karena dia enak diajakin ngobrol, atau karena biar nggak kesepian aja, atau agar suatu saat kalau kita sedang terpuruk kita bisa dapat uluran tangan dari dia. Then, it’s also ‘untung-rugi’. Dan akhirnya kalo tujuan atau ekspektasi kita nggak tercapai, kitanya yang kecewa. Then, again, again, and again, kita sakit hati karena ulah kita sendiri.

Bagaimana kalo kita ubah mindset ‘untung-rugi’ itu menjadi sesuatu yang lebih kekal, yang lebih immortal? Yang nggak cuma berpatok pada hal-hal yang fana. Dimana kita memanfaatkan teman kita agar kita bisa ‘do something good’ dan dia bisa ‘do something good too’. Seperti mengingatkan dia saat dia terjatuh dalam kesalahan, atau mengingatkan dia agar makin semangat dan rajin buat ngelaksanain perintah Allah. And this is the immortal one, yakni ‘investasi akhirat’. Dia dapet pahala karena ninggalin perbuatan maksiat atau ngelaksanain ketaatan, dan kita dapet pahala juga karena udah ngajakin dia dan mengingatkan dia. Kita buat teman kita menjadi objek dakwah kita, objek investasi abadi kita. Bukankah Rasulullah ﷺ pernah bersabda :

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim No. 1893)

Jadi, misalnya kamu punya temen yang tajir, nih. Ajakin dia buat rajin sedekah ke faqir miskin. Atau ajakin dia buat sekedar ngasih beberapa makanan ke para tukang becak di pinggir jalan pas kebetulan lagi keluar bareng. Atau ajakin dia mampir ke panti asuhan atau main ke TPQ di pedesaan agar dia ngerasain hawa kesederhanaan dan biar hatinya tersentuh.

Dan misalnya kalau kamu punya temen yang masih di tahapan cari jati diri. Antara mau hijrah tapi masih enggan, atau udah menuntut ilmu tapi enggan buat ngamalinnya. Ingatkan dia dengan kata-kata yang lembut. Ajakin dia buat mulai merutinkan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Seperti dzikir pagi-sore, sholat di awal waktu, baca Al-Qur’an minimal satu halaman sehari, dan lain sebagainya. Baru kemudian ke amalan-amalan yang lebih gede value-nya.

Tapi ingat, yang namanya dakwah itu bisa diterima dan bisa saja ditolak. Kalau ditolak ya sabar aja. Toh, kita sudah sampaikan saja kita sudah dapat pahala. Dan ketahuilah nggak ada yang sia-sia. Bisa saja dengan beberapa ajakan kita sekarang belum diterima, tapi beberapa tahun kemudian bisa jadi dia berubah. Who knows?

Dan adapun misalnya kita punya temen yang shalih nih, ‘alim, dan masyaAllah deh pokoknya. Kita bisa manfaatin dia dengan mengambil sebanyak-banyaknya faedah dan ilmu dari dia. Buat dia jadi teladan kita, motivator, dan support system pribadi kita. Dan balas kebaikan dia dengan hadiah, kado, etc. Dia dapet pahala karena bisa nyalurin ilmu dia, dan kamu dapet pahala karena kasih dia hadiah. Atau bisa juga dengan mem-fasilitasi dia. Bisa saja dia ingin spread kindness, pengin dakwah juga tapi masih malu-malu. Atau dia orangnya introver, maka bantulah dia. Buat komunitas yang bermanfaat, kamu bisa jadi controller atau admin. Bikin visualiasi dakwah yang cakep, dan teman shalihmu itu cukup sebagai kontributor tulisannya. 

Dan juga, jangan cari teman karena ingin kecipratan baiknya terus. Nggak harus sama si dia yang punya kelebihan ini dan itu. Terkadang, pertemanan itu seperti magnet, yang memiliki interest yang sama kayak kita aja yang bisa dekat sama kita. Dan ternyata, sama-sama nggak punya kelebihan. Dia nggak shalih-shalih amat, dan kita nggak shalih-shalih amat juga. Kalau seperti ini berarti kita saling menasihati, saling mengingatkan, saling menguatkan satu sama lain. Be better together, improve ourself together. Allah ﷻ berfirman :

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta salong menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran." (Surah Al-Ashr: 1-3)

Jadi, ending-nya kamu nggak cuma ‘do something good’ dan dia ‘do something good too’ aja. Tapi kamu dan dia sama-sama dapet pahala, dapet investasi akhirat, the immortal one. Jadi kita nggak bakalan kecewa lagi, karena benefit-nya real dan pasti, Allah-lah yang bakal kasih, bukan manusia yang hanya terbatas kemampuannya.

Ditulis oleh : Sittah Shifkhiyyah
18/12/2019

Terinspirasi dari buku What's Wrong About Your Life, karya Ardhi Mohammad. Dan beberapa nasihat dari gege tersayang Akalielie Ibrotie.


Bolehkah Wanita Keluar Rumah Memakai Parfum?


Pertanyaan : “Wahai Syaikh. Apakah boleh bagi wanita jika ia ingin keluar menuju ke sekolah, rumah sakit, atau mengunjungi kerabat dan tetangga dengan memakai wewangian?”

Jawaban : “Boleh memakai wewangian jika wanita ini keluar untuk pergi ke tempat perkumpulan para wanita. Yang mana selama perjalanannya tidak melewati lelaki yang bukan mahramnya (di dalam mobil pribadi selama perjalanan misalnya). Adapun jika ia memakai wewangian dan keluar ke pasar atau mal-mal yang dimana ada para lelaki disana, maka ini tidak boleh. Sebagaimana Rasulullah bersabda : “Wanita mana saja yang terkena (memakai) dupa/wewangian maka jangan pernah mengikuti shalat isya’ (di masjid)”.(H.R. Abu Dawud 13/469). Dan hadits-hadits lain yang bermakna semisal.

Dan pemakaian wewangian ini tidak boleh karena jika wanita yang memakai wewangian ini melewati jalanan yang ada lelaki disana (seperti masjid) akan menjadi sebab munculnya fitnah. Segaimana ia diwajibkan untuk menutup aurat dan menjauhi tabarruj (berhias di hadapan lelaki bukan mahram). Sebagaiman yang Allah firmankan :

﴿وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرَّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُوْلَى﴾

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu..” (Surah Al-Ahzab ayat 33)

Dan yang termasuk tabarruj adalah menampakkan hal-hal yang menimbulkan fitnah dan keindahan. Seperti wajah, kepala, dan sebagainya. Wabilֿlahittaufֿiq.[1]



[1] Dikutip dari: Kitab (versi arab) Ad-Durar Ats-Tsariyatu Minal Fatawa Al-Barizah (Muntaqatu min Majmu’ Fatawa wal Maqolat Mutanawwi’ah) Karya Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Abdullah Bin Baz  r. Terbitan Lajnah Ilmiah fi Muassasah Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baz Al-Khoiriyyah. Riyadh tahun 1432H. Hal. 400.

Awan Yang Patuh



Dari Abu Hurairah Radhiyallֿahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda : “Ketika seorang laki-laki berada di sebuah kebun, ia mendengar suara di awan yang mengatakan, “Airilah kebun si Fulan!” Awanpun bergerak dan menumpahkan airnya di sebuah tempat yang penuh bebatuan.

Maka parit-parit itu penuh karena menampung air yang turun. Ia mengikuti arah air mengalir. Lalu mendapatkan seorang laki-laki berdiri di kebunnya. Ia sedang mengalirkan air dengan cangkulnya.
Ia berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah! Siapa namamu?” Ia menjawab, “Fulan.” Nama yang sama dengan yang tadi didengarnya dari arah awan tadi.

Si pemilik kebun bertanya kepadanya, “Wahai hamba Allah. Kenapa engkau menanyakan namaku?” Ia menjawab, “Karena saya tadi mendengar suara dari awan, yang kemudian menuangkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si Fulan.’ Persis dengan namamu.”

“Sebenarnya apa yang anda lakukan dengan kebun anda?” Si pemilik kebun menjawab, “Bila anda menanyakan masalah ini. Maka sesungguhnya saya melihat hasil (panen kebunnya). Saya bersedekah dengan sepertiganya. Saya bersama keluarga makan sepertiganya. Dan sepertiga sisanya saya kembalikan ke kebun (untuk modal menanam kembali).”[1]

Pelajaran dari kisah di atas :

  1.  Keutamaan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.
  2. Berbuat baik kepada orang-orang miskin dan ibnu sabil (orang-orang yang kehabisan bekal di perjalanan). 
  3. Keutamaan seorang yang memakan hasil usahanya sendiri. 
  4. Keutamaan memberikan nafkah kepada keluarga dan kerabat.
  5. Adanya karamah (hal luar biasa) pada wali Allah dengan ditundukkannya alam bagi mereka. 
  6. Keutamaan bertani dan berkebun, yang termasuk pekerjaan paling baik. 
  7. Awan diperintahkan oleh Allah sesuai kehendak-Nya dan ada malikat yang bertugas untuk mengurusnya.
  8. Allah mencintai hamba-Nya yang seimbang dalam urusan dan kegiatannya. Yang memberikan siapa saja yang berhak akan haknya. 
  9.  Seorang mukmin bisa saja mendengar suara malaikat.




[1] Dikutip dari terjemahan kitab Sittuna Qishshatan Rawahan Nabi shallallaahu'alaihi wasallam (60 kisah shahih). Halaman 75-76. Terbitan eLBA.  Surabaya  

Tentang Penulis

Penulis adalah seorang penuntut ilmu. Mengenyam pendidikan sarjana strata satu di salah satu sekolah tinggi swasta di tanah air. Memiliki berbagai macam hobi dan interest yang rumit.

Salah satu hobi penulis adalah menggambar coretan sketsa tak terarah. Asalkan ada kertas kosong dan pulpen. Coretan apapun bisa dihasilkan. Penulis juga pecinta tanaman, segala macam tanaman. Tidak ada pengkhususan. Ia juga pecinta hewan. Dan pernah memelihara beberapa jenis unggas dan pet yang berujung wafat.

Kegiatan lainnya begitu bervariasi. Tipe manusia yang tidak mau diam. Apa saja asalkan bisa dilakukan pun diembatnya. Mulai dari bisnis tidak pasti yaitu mendesain grafis. Baik desain logo, pamflet, maupun desain komunitas.

Penulis adalah seorang ambivert. Di suatu saat sisi ekstrovertnya muncul. Tapi, di saat yang lain sisi introvertnya mendominasi sampai-sampai tak mau berbiacara dengan siapapun.

Prinsip hidup penulis sangatlah sederhana. Asalkan bisa lebih baik, kenapa tidak?

Terimakasih telah membaca deskripsi tentang penulis. Semoga tidak menyesal telah membacanya.

5 Tips Bagi Kalian Yang Galau



Siapa sih manusia yang tidak pernah galau di sepanjang hidupnya? Tidak ada bukan?

Setiap orang punya masalah. Dan masalah itu datang dan pergi seiring waktu yang dijalani. Adakalanya kita tertimpa masalah besar. Dan adakalanya juga kita seolah-olah tidak punya masalah sama sekali.

Nah, bagi kalian yang sedang dirundung masalah rumit. Baik itu kerjaan tugas menumpuk, tanggungan banyak, deadline berbagai macam tuntutan juga berderet. Sudah begitu akhir bulan lagi! Waduh, pasti galau banget kan? Baiklah yuk mari kita simak 5 tips galau di bawah ini :

1.       Ketahuilah dan yakini bahwa dunia ini tempat diuji dan tidak abadi (fana).
Allah berfirman :

﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَ نَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَ الثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَابِرِيْنَ ﴾

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.” (Surah Al-Baqarah ayat 155).

Dan juga firman Allah :

﴿ إِنَّأ جَعَلْنَا عَلَى الْأَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَكُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلَا ﴾

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagi perhiasan baginya, untuk menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (Surah Al-Kahfi ayat 7)

Dengan mengetahui dan meyakini bahwa dunia ini hanyalah sementara. Hal itu akan membuat kita merasa lebih ringan dengan masalah hidup kita. Ingatlah, segala kenikmatan selain Surga itu akan berakhir. Dan setiap musibah selain Neraka adalah keselematan.

2.       Ketahuilah keutamaan-keutamaan sabar.

﴿...وَبَشِّرِ الصَابِرِيْنَ ۝ الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌۙ قَالُوْآ إِنَّا لِلّٰهِ وَ إِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ ۝ أُلٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَأُلٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ﴾

“... Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. (Yaitu)orang-orang yang ditimpa musibah, mereka berkata “Innֿalillֿahi wa innֿa ilaihi rֿaji’ֿun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Surah Al-Baqarah ayat 155-157).

Dan masih banyak sekali ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an yang menyebutkan keutamaan-keutamaan orang bersabar. Dan kesemuanya itu dijanjikan surga.  Semisal hadits yang diriwayatkan Atha’  Bin Abi Rabbah. Ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Maukah aku tunjukkan padamu wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Iya.” Kemudian ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukkku agar Allah menyembuhkanku.” Kamudian Nabi bersabda : “Jika engkau mau bersabar bagimu surga. Dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.” Kemudian wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.” Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka nabi pun mendoakannya. (H.R. Bukhori dan Muslim).

Lihatlah kesabaran wanita dalam kisah di atas. Dia lebih memilih bersabar dengan ganjaran surga. Daripada kesembuhan yang juga pasti ia dapatkan jika didoakan oleh Nabi . Masih ragukah kamu untuk bersabar?

3.       Jauhi perkataan “Andaikan aku..”

Berandai-andai adalah sebab utama kegalauan. Apalagi saat membuka media sosial seperti instagram. Melihat teman-teman kita sudah sukses dalam karirnya. Atau sudah memilki pasangan dan romantis di medsos. Pasti akan menimbulkan iri hati. Sehingga berkata : “Ah, andaikan aku memiliki ini dan itu. Andaikan aku memilki pasangan yang demikian dan demikian.”

Waspadailah wahai kalian. Berandai-andai itu hal-hal yang buruk. Memberikan efek negatif pada diri kita. Sehingga muncul rasa kurang bersyukur. Padahal Rasulullah bersabda :

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَ أَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَ فِيْ كُلِّ  خَيْرٍ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَ اسْتَعِنْ بِاللهِ وًلَا تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ : قَدَّرُ اللهِ وَمَاشَاءَ فَعَلْ، فَإِنْ لَوْ تُفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَنِ  

“Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Dan dalam segala kebaikan, bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagi kalian. Dan memintalah pertolongan kepada Allah. Dan janganlah kalian merasa lemah. Dan apabila kalian tertimpa sesuatu, maka jangan berkata : “Andaikan aku tadi berbuat demikian dan demikian.” Akan tetapi katakanlah : “Qaddarullֿah wa mֿasya fa’al” (Sudah menjadi taqdir Allah dan segala yang dikehendaki-Nya). Karena jika kalian katakan “Andaikan aku..” hal itu akan membuka pintu amalan setan. (H.R. Muslim no. 2052).

4.       Ketahuilah bahwa terkadang yang kita benci adalah yang terbaik untuk kita. Dan terkadang yang kita sukai adalah hal yang buruk bagi kita.

Allah  berfirman :

﴿ وَعَسٰٓى أَنْ تَكْرَهُوْآ شَيْأً وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَ عَسٰٓى أَنْ تُحِبُّوْآ شَيْأً وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ﴾

“Tetapi, boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Hamya Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui,” (Surah Al-Baqarah ayat 216).

5.       Shalat dan Do’a.
Shakat dan do’a memiliki pengaruh yang besar terhadap akhlaq dan tabiat seseorang. Dan wasilah untuk meyakinkan keyakinan seseorang. Allah berfirman :

﴿ وَاسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلَاِة ۚ وَ إِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلَّا عَلٰى الخَاشِعِيْنَ ﴾

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu."

Serta berdo’a kepada Allah agar dihilangkan segala hal yang menyedihkan. Rasululllah berdo’a dengan do’a yang berbunyi :

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَ الْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَ الْكَسَلِ وَ الْبُخْلِ وَ الْجُبْنِ وَ ضَلَعِ الدِّيْنِ وَ غَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazani, wal ’ajzi wal kasali, wal bukhli wal jubni, wa dhola’id-daini wa gholabatir-rijaal.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, lemah dan malas, kikir dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”(H.R. Bukhori no. 2893)[1]

Wah, ternyata artikel ini panjang sekali. Terimakasih telah membacanya. Semoga bermanfaat.




[1] Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Ushul Tarbiyah Islamiyah. Karya Doktor Khalid Bin Hamid Al-Hazimi. Daarul ‘ֿAlimil Kutub. Hal. 107-109.

Peran Teman dalam Kehidupan



Individualis bukanlah sifat dasar manusia. Karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Karena itulah manusia harus memiliki teman dalam menjalani kehidupannya. Baik teman dalam pembelajaran akademis, maupun teman dalam hobi atau kegiatan yang sama.

Sudah menjadi hal yang wajar. Jika manusia merasa kesepian saat sendirian. Dan lebih semangat dan senang apabila bersama-sama temannya. Karena memang itulah yang dianjurkan dalam islam. Lebih dianjurkan bersama-sama dengan yang lainnya daripada sendirian. Rasulullah bersabda :

...فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد...

“...Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua...”(HR. Tirmidzi no.2165)

Dan begitu juga dalam islam. Dianjurkan untuk berteman dengan orang yang bai. Seperti yang Allah firmankan:

قال تعالى: {اَلْأَخِلَّٓآءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِيْنَ} [الزخرف: 67]

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Surah Az-Zukhruf ayat 67)

Dari ayat ini bisa kita pahami bahwa berhati-hati dalam memilih teman itu juga penting. Karena teman memberikan pengaruh besar terhadap seseorang. Sebagaimana dalam hadits Nabi :

قَالَ صلى الله عليه وسلم : «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ» سنن أبي داود والترمذي

Rasulullah bersabda : “Seorang diatas agama temannya, maka hendaklah salah seorang kalian memperhatikan siapa yang ditemani”.

Dan Rasulullah juga bersabda :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَ نَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلِ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكِ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ رِيْحًا طِيِّبَةً. وَنَافِخِ الْكِيْرِ إِمَّا أِنْ يَحْرِكَ ثِيِابِكِ وَ إِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْتِنَةً. (متفق عليه)

“Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk itu seperti  pembawa minyak misk (yang berbau wangi) dan peniup perapian (tukang pandai besi).  Adapun pembawa minyak misk adakalanya ia memberikan minyaknya padamu, atau kamu dapat membeli darinya. Dan atau –setidaknya- kamu dapat mencium bau harum (darinya). Adapun tukang pandai besi, maka adakalanya akan membuat bajumu terbakar, atau kamu akan memperoleh bau busuk (darinya). (Muttafaq ‘alaih).

Kesimpulan dari beberapa ayat dan hadits di atas. Dapat diartikan bahwa peran teman dalam kehidupan kita sangatlah besar. Karena itulah setiap muslim wajib mencari teman yang baik. Dan jika belum mampu mendapatkan teman yang baik. Setidaknya kita berusaha menjadi teman yang baik seperti pembawa minyak misk yang di sebut dalam hadits di atas.

Dan di era digital seperti sekarang. Dapat dilihat bahwa kebanyakan orang semakin individualis. Gaya hidup yang ketergantungan gadget. Membuat mereka tersibukkan dengan gawai (gadget) masing-masing  dan kurang peduli dengan orang-orang di sekitarnya taua bahkan lingkungan sekitarnya.

Ingat. Media sosial bukanlah letak mencari teman yang baik. Karena begitu banyak manusia bermuka dua saat memainkan media sosial. Sudah sepantasnya bagi kita untuk mulai melihat sekitar. Mengenali sekitar. Membuat hubungan baik dengan sekitar. Dan dengan begitu, kamu akan dapatkan teman-teman baik yang sesungguhnya.


Sekian tulisan sederhana ini saya buat. Semoga bermanfaat!